puisi : kupu – kupuku

puisi: kupu-kupuku
untuk
kupu-kupuku

mengarungi tujuh samudra bukanlah pekerjaan yang teramat menyusahkan! tinggal bermimpi tau-taunya sudah ada di tengah-tengah samudra. Weleh-weleh membingungkan saja alam mimpi. walau malam merampas kebahagiaan saat menikmati arti sebuah kehidupan. Angin taufan mengibaskan tangannya dan mengombang-ambingkan kisah-kisah peradaban yang pernah tercipta dari tangan penyair.
Lirik bait siap menentukan jalan permainan kata-kata.
semua tidak akan berakhir begitu saja seperti sebuah klise foto yang baru saja melintas. Padahal semesta bayang-bayang yang dibawa si Clurit Emas masih duduk tenang menikmati abu rokok dari sela-sela tangannya. Bisa saja semua orang menjadi pujangga. Bahkan menjadi pujangga cintapun tidak masalah. Wong Pujangga cinta mampu menyikapi dengan keperkasaannya saat menerbangkan kupu-kupu kata. lumpuh ditingkap merapuh. hingga mampu memupuskan rembulan merah dari peredarannya. meski tak mampu lagi untuk menyangga hati yang terluka.
desiran angin sepoi-sepoi melantunkan nyanyian malam. untuk pertama kalinya dengarku kata-kata mengalir kupu-kupu hati. Kupu-kupu yang telah memenjarakan hati. Dan menangkap kehadiran kata abadi.
kadang juga sepi melintas meski bukan untuk yang kesekian kalinya untuk tahuku. sepi juga mampu untuk melintasi sayap jibriel yang menjadi saksi bisu atas nama cinta. terlahir dari ketulusan jiwa dan hangatnya jalinan kasih, menemani impian tiada akhir. sampai kenangan terbalut sendu. di sinilah kutemukan kau dalam kupu-kupu kata yang menjelma menjadi kupu-kupu kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s